Prosesi penghantaran jenazah berlangsung sederhana tanpa kehadiran unsur protokoler maupun perwakilan resmi dari pemerintah kecamatan, dinas pendidikan, ataupun pemerintah desa. Bahkan, jenazah almarhumah diantar menggunakan mobil pick up hasil swadaya warga, menjadi gambaran nyata minimnya perhatian terhadap sosok yang selama hidupnya mendedikasikan diri di dunia pendidikan.
Almarhumah dikenal sebagai pendidik yang telah puluhan tahun mengajar dan membimbing generasi muda di wilayah Hamparan Perak, khususnya Desa Bulu Cina. Dedikasinya sebagai guru meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat. Namun saat berpulang, penghormatan yang diharapkan tidak terlihat.
Kekecewaan masyarakat pun mengarah kepada Camat Hamparan Perak, M. Faisal Nasution, yang disebut tidak hadir maupun mengirimkan perwakilan, meskipun kabar duka telah disampaikan sehari sebelumnya.
Sikap serupa juga disorot kepada Pemerintah Desa Bulu Cina yang dinilai tidak menunjukkan empati atas wafatnya salah satu tokoh pendidikan di wilayah tersebut.
Salah satu pelayat, Abdul Hadi, menyampaikan kritik keras atas kejadian tersebut. Ia menilai ketidakhadiran pihak pemerintah mencerminkan kurangnya kepedulian terhadap sosok yang telah berjasa besar bagi masyarakat.
“Ini bukan sekadar kelalaian, tetapi bentuk ketidakpedulian. Seorang guru yang telah mengabdikan hidupnya puluhan tahun diperlakukan seolah tidak pernah ada,” ujarnya.
Ia juga mendesak Pemerintah Kabupaten Deli Serdang untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja aparatur terkait, serta menekankan pentingnya sikap terbuka terhadap kritik dan aspirasi masyarakat.
Peristiwa ini dinilai berpotensi mencoreng citra pemerintah daerah di tengah upaya membangun kepercayaan publik. Di balik berbagai program pembangunan, kejadian ini menjadi pengingat bahwa empati merupakan fondasi utama dalam kepemimpinan.
Kini, almarhumah telah berpulang. Namun, cara ia dilepas akan terus dikenang masyarakat sebagai kisah pilu tentang minimnya penghormatan terhadap sosok pendidik yang telah berjasa. Di tengah kesederhanaan prosesi, justru masyarakatlah yang menunjukkan penghormatan tulus, sementara kehadiran negara terasa absen. (Samsul)

.jpeg)
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar