Medan, Mediareportasenews.com
Kematian Winda Lorenza Gowasa (31), istri seorang anggota kepolisian yang bertugas di Polsek Medan Sunggal, Polrestabes Medan, masih menyisakan tanda tanya besar bagi pihak keluarga. Keluarga mempertanyakan penyebab pasti kematian Winda, apakah benar akibat bunuh diri atau terdapat kemungkinan lain yang perlu diungkap melalui proses penyelidikan secara menyeluruh.
Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Rakyat Peduli Keadilan (DPP GRPK) Provinsi Sumatera Utara mendatangi kediaman keluarga Winda yang berada di kawasan Medan Perjuangan, Sabtu (8/8/2026).
Kedatangan Ketua DPP GRPK Sumatera Utara, Abdul Hadi, bersama rombongan tersebut disebut sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan sekaligus dukungan terhadap keluarga korban yang menginginkan agar kasus kematian Winda dapat diungkap secara transparan dan memberikan keadilan.
Di hadapan ibu kandung korban, Yestin Laila, ayah korban, serta adik kandung korban, Ica, yang didampingi kuasa hukum keluarga, Paul Tambunan, Abdul Hadi menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Winda Lorenza Gowasa. Ia juga menyatakan bahwa pihaknya melihat adanya sejumlah hal yang menurutnya perlu mendapat perhatian dan penjelasan lebih lanjut.
"Kami datang ke sini karena panggilan hati, tidak ada niat yang lain. Saya melihat kematian Winda ini janggal dan tidak wajar. Itu pun saya mengetahuinya dari foto dan video viral yang beredar di media sosial," ujar Hadi.
Kuasa hukum keluarga almarhumah Winda Lorenza Gowasa, Paul Tambunan, S.H., juga menyampaikan sejumlah hal yang menurut pihak keluarga menjadi kejanggalan dan perlu diklarifikasi melalui proses hukum serta pemeriksaan forensik yang objektif.
Menurut Paul, salah satu hal yang dipertanyakan keluarga terjadi ketika mereka mendatangi lokasi tempat kejadian perkara (TKP) di Komplek Bumi Asri, Blok G230, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, pada Minggu (2/8/2026).
Lokasi tersebut disebut merupakan rumah milik Bripka IH. Paul mengatakan, saat keluarga korban tiba di lokasi, mereka tidak diperbolehkan melihat jasad Winda.
"Saat itu keluarga dilarang untuk melihat. Ada seorang Polwan yang melarang, dan kami menduga oknum Polwan itu diperintahkan oleh keluarga Bripka IH," sebut Paul.
Ia melanjutkan, setelah jenazah selesai menjalani autopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Medan, pihak keluarga korban juga disebut tidak diperbolehkan mengambil foto maupun video kondisi jenazah.
Menurut Paul, pada saat itu salah satu pihak keluarga Bripka IH juga menyarankan agar jenazah Winda segera dimakamkan. Namun, permintaan tersebut ditolak oleh ibu kandung korban, Yestin Laila.
"Kalau kejanggalan lain, ini justru kami heran. Kenapa pihak keluarga Bripka IH yang menyuruh untuk buru-buru segera dikuburkan, padahal Winda sendiri rumah orang tuanya ada, bahkan keluarga besarnya juga tinggal di Medan," tambah Paul.
Karena permintaan untuk segera memakamkan jenazah tersebut ditolak oleh ibu kandung korban, akhirnya jenazah Winda dibawa dan disemayamkan di rumah orang tuanya.
Paul kemudian menyampaikan bahwa setelah jenazah dibawa pulang ke rumah orang tua, pihak keluarga melihat adanya sejumlah kondisi pada tubuh korban yang menurut mereka perlu mendapatkan penjelasan secara medis dan forensik.
Ia menyebut terdapat beberapa lebam serta bekas jahitan yang menurut dugaan keluarga merupakan bekas luka terbuka di sejumlah bagian tubuh Winda.
"Dikelopak mata lebam kehitaman, kening pada sisi kanan cekung, di bagian tenggorokan ada bekas sayatan, di bagian paha juga lebam, jari-jari kuku sebagian berwarna biru kehitaman, bagian perut ada bekas sayatan, dan di bagian pergelangan kaki terdapat lebam," jelasnya.
Namun, Paul menegaskan dirinya tidak menyimpulkan bahwa kondisi tersebut merupakan akibat penganiayaan karena dirinya bukan ahli forensik. Ia mengatakan, hal tersebut justru menjadi alasan bagi keluarga untuk meminta agar penyebab kematian Winda diperiksa dan diungkap secara menyeluruh berdasarkan bukti ilmiah.
Paul juga mempertanyakan pernyataan mengenai penyebab kematian Winda yang menurutnya terlalu cepat mengarah pada dugaan bunuh diri.
"Namun, saya juga tidak mengatakan kalau itu bekas penganiayaan, karena saya bukan ahli forensik. Yang sangat disayangkan, kenapa pihak forensik RS Bhayangkara dan pihak kepolisian terlalu cepat mengeluarkan statement kalau kematian Winda akibat bunuh diri. Ini kan terlalu janggal dengan bukti dan fakta yang terdapat pada jasad korban," kesalnya.
Menyikapi sejumlah hal yang dipertanyakan keluarga tersebut, Abdul Hadi selaku Ketua DPP Gerakan Rakyat Peduli Keadilan bersama tim kuasa hukum keluarga Winda Lorenza menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi agar kasus kematian Winda dapat diungkap secara transparan dan terang benderang.
"Kita akan meminta Mabes Polri, termasuk Tim Labfor, untuk ikut membantu kasus ini. Kita juga akan menyuratinya, dan bila perlu kasus ini harus diambil alih oleh Mabes Polri," tegas Hadi.
Menurut Hadi, langkah yang dilakukan pihaknya bukan didasari rasa benci maupun ketidakpercayaan terhadap institusi Kepolisian Daerah Sumatera Utara. Sebaliknya, ia menyebut langkah tersebut dilakukan karena kepedulian terhadap institusi Polri dan keinginan agar kasus tersebut dapat diungkap secara objektif sehingga tidak menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.
"Alhamdulillah, dari Komisi III DPR RI telah merespons surat yang telah dilayangkan oleh pihak kuasa hukum keluarga korban. Kita juga nanti akan mendesak Kapolri, Kompolnas, dan Kapoldasu untuk melihat kasus ini agar menjadi atensi, agar publik tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Hadi.
Sementara itu, Yestin Laila, ibu kandung Winda Lorenza Gowasa, berharap Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dapat memberikan perhatian terhadap kasus kematian anaknya.
Ia berharap proses penyelidikan dapat dilakukan secara transparan dan menyeluruh sehingga penyebab kematian Winda dapat diketahui secara jelas berdasarkan fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Keluarga juga berharap seluruh pihak terkait dapat memberikan ruang bagi proses hukum untuk berjalan secara objektif sehingga tidak ada informasi yang simpang siur dan kepastian mengenai penyebab kematian Winda dapat terungkap. (Tim/P2BMI)

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar