-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Benih Merdeka dan Sitor Situmorang, Dua Jejak Sumatera Utara yang Mengubah Sejarah Pers Indonesia

Kamis, 06 Agustus 2026 | Agustus 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-06T02:01:24Z



Samosir, Mediareportasenews.com

Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, gaung kemerdekaan sesungguhnya telah lebih dahulu menggema melalui lembaran-lembaran surat kabar. Di Medan, Sumatera Utara, pada tahun 1916 terbit sebuah media bernama Benih Merdeka, yang tercatat sebagai surat kabar pertama di Indonesia yang menggunakan kata "Merdeka" sebagai nama medianya.

Pemilihan nama tersebut bukan sekadar identitas penerbitan. Di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda, kata "Merdeka" merupakan simbol keberanian yang merepresentasikan semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Pada masa ketika gagasan mengenai kemerdekaan masih dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah kolonial, Benih Merdeka hadir sebagai media yang menanamkan harapan sekaligus membangkitkan kesadaran kebangsaan di tengah masyarakat.

Surat kabar tersebut didirikan oleh Tengku Raja Sabaruddin, tokoh Sarekat Islam Cabang Medan. Melalui media itu, gagasan mengenai persatuan, nasionalisme, serta cita-cita Indonesia merdeka mulai disebarluaskan kepada rakyat. Pers pada masa itu tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi instrumen perjuangan yang efektif dalam melawan penindasan dan membangun kesadaran politik masyarakat.




Catatan sejarah yang ditulis sejarawan Mohammad Said dalam bukunya Sejarah Pers di Sumatera Utara (1976) menyebutkan bahwa Medan merupakan daerah pertama di Indonesia yang melahirkan surat kabar dengan nama "Merdeka". Kesimpulan tersebut juga diperkuat oleh berbagai penelitian akademik, termasuk kajian yang dipublikasikan oleh Universitas Negeri Medan.

Fakta sejarah ini sekaligus meluruskan anggapan yang selama ini berkembang bahwa Harian Merdeka, yang terbit pada 1 Oktober 1945, merupakan media pertama yang menggunakan kata "Merdeka". Demikian pula Suara Merdeka yang lahir di Semarang pada 11 Februari 1950. Berdasarkan berbagai literatur sejarah pers Indonesia, pelopor penggunaan kata "Merdeka" sebagai nama surat kabar tetaplah Benih Merdeka yang terbit di Medan pada tahun 1916.

Namun, jejak Sumatera Utara dalam sejarah pers nasional tidak berhenti pada lahirnya Benih Merdeka. Dari tanah Batak juga lahir seorang wartawan yang kemudian menjelma menjadi salah satu sastrawan terbesar Indonesia, yakni Sitor Situmorang.




Lahir di Harianboho, Kabupaten Samosir, pada 2 Oktober 1924 dengan nama Raja Usu Situmorang, Sitor tumbuh sebagai sosok yang mampu memadukan dunia jurnalistik dengan dunia sastra. Namanya kemudian disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar Angkatan '45, seperti Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin.

Bakat jurnalistik Sitor telah tampak sejak usia muda. Pada tahun 1943, ketika usianya baru menginjak 19 tahun, ia dipercaya memimpin redaksi Suara Nasional, surat kabar yang terbit di Sibolga dan berkaitan dengan Komite Nasional Daerah Tapanuli. Amanah tersebut menjadikannya sebagai salah satu pemimpin redaksi termuda dalam sejarah pers Indonesia.

Perjalanan jurnalistiknya kemudian berkembang semakin luas. Sitor pernah bergabung dengan Kantor Berita ANTARA, menjadi koresponden Harian Waspada di Medan, bekerja di Suara Merdeka di Pematangsiantar, hingga menjadi wartawan di Jakarta dan Yogyakarta. Pengalaman panjang tersebut membentuk karakter tulisannya yang kritis, tajam, dan reflektif, namun tetap kaya dengan nuansa sastra.

Pada periode 1950 hingga 1953, Sitor menetap di Amsterdam dan Paris. Pengalaman hidup di Eropa memperkaya cakrawala berpikirnya sebagai penulis. Dari perjalanan tersebut lahirlah sejumlah karya penting yang kemudian menjadi bagian dari khazanah sastra Indonesia, di antaranya Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Pertempuran dan Salju di Paris (1956), Peta Perjalanan (1977), Angin Danau (1982), serta Bunga di Atas Batu (1989).




Di luar dunia sastra, Sitor juga aktif dalam kehidupan kebudayaan dan politik nasional. Ia pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Namun, setelah pergolakan politik 1965, ia ditahan tanpa melalui proses peradilan selama beberapa tahun sebelum akhirnya menetap di Belanda hingga akhir hayatnya.

Sitor Situmorang meninggal dunia di Apeldoorn, Belanda, pada 21 Desember 2014. Meski telah berpulang, karya-karyanya tetap hidup dan menjadi warisan berharga dalam sejarah sastra maupun jurnalistik Indonesia. Puisi, esai, serta reportasenya banyak mengangkat identitas Batak, kerinduan terhadap kampung halaman, semangat nasionalisme, hingga pergulatan manusia menghadapi perubahan zaman.

Benih Merdeka dan Sitor Situmorang menghadirkan dua babak penting dalam perjalanan sejarah pers Indonesia. Yang pertama menyalakan api perjuangan melalui keberanian menggunakan kata "Merdeka" sebagai nama surat kabar ketika bangsa Indonesia bahkan belum berdiri. Yang kedua membuktikan bahwa pena seorang wartawan mampu melampaui ruang redaksi dan menjelma menjadi karya sastra yang dikenang lintas generasi.

Dari Medan lahir surat kabar yang berani mengusung semangat kemerdekaan sejak tahun 1916. Dari Samosir lahir seorang wartawan muda yang kemudian dikenal sebagai Penyair Danau Toba, sekaligus salah satu tokoh sastra terbesar Indonesia. Keduanya menjadi penanda bahwa Sumatera Utara bukan sekadar bagian dari sejarah pers nasional, melainkan salah satu fondasi penting yang membentuk wajah jurnalistik Indonesia hingga hari ini.

Jejak yang mereka tinggalkan membuktikan bahwa pers bukan hanya saksi perjalanan bangsa, tetapi juga pelaku sejarah yang ikut menumbuhkan kesadaran, memperjuangkan kemerdekaan, dan membangun identitas Indonesia melalui kekuatan kata-kata. (Rokki. P)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update