-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

‎Lindungi Ekosistem Harangan Tapanuli, Pemkab Taput Jalin Sinergi Strategis dengan Dua Yayasan Konservasi

Selasa, 09 Juni 2026 | Juni 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-08T23:51:03Z



Tapanuli Utara, Mediareportasenews.com

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara resmi menjalin kesepakatan bersama dengan Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa (Tahukah) dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL-OIC). Penandatanganan memorandum of understanding (MoU) tersebut berlangsung di Aula Mini Kantor Bupati Tapanuli Utara, Senin (8/6/2026).

Agenda strategis ini dihadiri langsung oleh Bupati Tapanuli Utara Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si., Wakil Bupati Tapanuli Utara Dr. Deni Parlindungan Lumbantoruan, M.Eng., Sekretaris Daerah Henry M.M. Sitompul, M.Si., Direktur Eksekutif Yayasan Tahukah Erwin Alamsyah Siregar, serta Direktur Eksekutif YOSL-OIC Syafrizaldi.

Turut hadir mendampingi jajaran pimpinan perangkat daerah teknis, antara lain Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, Bagian Tata Pemerintahan, Bagian Hukum, Bagian Pembangunan, Bappedalitbang, serta para camat dari wilayah yang menjadi lokasi pelaksanaan program kerja sama.

Dalam kesempatan tersebut, ditandatangani dua ruang lingkup kesepakatan bersama. Pertama, kerja sama dengan Yayasan Tahukah mengenai penguatan daya dukung berbasis kehutanan dan lingkungan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Tapanuli Utara.




Kedua, kesepakatan bersama dengan YOSL-OIC terkait perlindungan Orangutan Tapanuli beserta ekosistemnya secara berkelanjutan melalui dukungan berbagai program konservasi yang akan dilaksanakan di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara.

Dalam bimbingan dan arahannya, Wakil Bupati Tapanuli Utara Dr. Deni Parlindungan Lumbantoruan, M.Eng., menegaskan bahwa penandatanganan kerja sama ini merupakan bentuk nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dalam mengimplementasikan visi pembangunan daerah yang berorientasi pada prinsip keberlanjutan (sustainability).

“Tujuan utama (objective) kita semua adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan konservasi dan kelestarian lingkungan bertindak sebagai batasan (constraint) yang harus dipatuhi. Lingkungan tidak boleh dijadikan penghalang total sehingga pembangunan infrastruktur seperti jalan tol atau pertanian rakyat terhenti, tetapi pemanfaatannya harus dibatasi agar ekosistem tidak rusak dan tidak memicu bencana kekeringan maupun banjir,” ujar Deni Lumbantoruan.

Lebih lanjut, Wakil Bupati menyambut baik kehadiran organisasi nonpemerintah atau Non-Governmental Organization (NGO) yang selama ini aktif dalam bidang konservasi dan lingkungan hidup. Ia menegaskan bahwa paradigma lama yang menempatkan NGO sebagai pihak yang berseberangan dengan pemerintah sudah tidak relevan lagi dan perlu ditinggalkan.




Menurutnya, kemitraan yang terjalin antara pemerintah daerah dan berbagai organisasi masyarakat sipil harus mampu melahirkan inovasi dan terobosan baru yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat maupun lingkungan.

Salah satu gagasan yang didorong Pemkab Taput adalah pemanfaatan kawasan Masyarakat Hukum Adat (MHA) yang telah dimiliki Kabupaten Tapanuli Utara untuk dikembangkan sebagai pusat penelitian sekaligus kawasan konservasi wisata yang ramah akses. Potensi tersebut dinilai sangat menjanjikan karena lokasinya relatif dekat dengan Bandara Internasional Silangit sehingga memudahkan mobilitas peneliti, wisatawan, maupun pemerhati lingkungan.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara juga meminta pihak yayasan untuk menggalakkan edukasi mengenai satwa endemik Orangutan Tapanuli sejak usia dini. Kampanye edukasi tersebut diharapkan dapat dilakukan melalui berbagai media pembelajaran interaktif, buku bacaan, hingga suvenir edukatif yang menarik bagi kalangan pelajar.

Sebagai bentuk komitmen dalam membangun kesadaran publik terhadap pentingnya konservasi, Pemkab Taput juga merencanakan pembangunan ikon atau patung replika Orangutan Tapanuli berukuran besar di lokasi strategis. Ikon tersebut nantinya diharapkan menjadi simbol identitas kawasan ekosistem Harangan Tapanuli sekaligus sarana edukasi dan promosi konservasi bagi masyarakat luas.




Sebagai implementasi nyata dari kesepakatan yang telah ditandatangani, program kerja sama ini akan dilaksanakan di sejumlah wilayah prioritas yang memiliki keterkaitan dengan kawasan konservasi dan habitat Orangutan Tapanuli.

Wilayah kerja tersebut meliputi Kecamatan Simangumban yang mencakup Desa Lobu Sihim, Desa Dolok Saut, dan Desa Dolok Sanggul; Kecamatan Pahae Julu yang mencakup Desa Pantis; Kecamatan Sipoholon yang mencakup Desa Rura Julu Toruan dan Desa Rura Julu Dolok; serta Kecamatan Parmonangan yang mencakup Desa Pertengahan dan Desa Hutajulu Parbalik.

Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara berharap upaya pelestarian lingkungan dan perlindungan Orangutan Tapanuli dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, sehingga tercipta keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian alam, dan keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.

(Rokki P)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update