-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kejar Target Awal 2026, Pembangunan Hunian Danantara di Aceh Tamiang Terus Dikebut

Selasa, 30 Desember 2025 | Desember 30, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-30T10:23:40Z


Aceh Tamiang, Mediareportasenews.com

Penanganan pascabencana banjir di Aceh terus memasuki fase lanjutan. Salah satu langkah pemulihan yang kini mulai direalisasikan adalah pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana. Pada tahap awal ini, sebanyak 600 unit hunian sementara telah dibangun.

Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) yang juga menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan pembangunan huntara merupakan bentuk partisipasi aktif negara melalui BUMN dalam membantu masyarakat terdampak bencana.

“Pada prinsipnya kami ingin ikut berpartisipasi membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana. Kami berharap hunian yang dibangun dapat menjadi tempat tinggal yang aman dan layak bagi masyarakat, sekaligus mendukung proses pemulihan mereka,” ujar Dony saat meninjau lokasi pembangunan, Selasa (30/12/2025).




Ia menjelaskan, pembangunan huntara tidak hanya mengedepankan kecepatan, tetapi juga memperhatikan kualitas lingkungan hunian. Kawasan huntara dirancang memiliki fasilitas pendukung kehidupan sehari-hari, mulai dari fasilitas umum, tempat ibadah, hingga ruang bermain anak. Selain itu, aspek konektivitas juga menjadi perhatian agar warga tetap dapat beraktivitas dan berkomunikasi selama masa pemulihan.

Dony menambahkan, 600 unit hunian tersebut merupakan tahap awal dari program yang lebih besar, dengan target pembangunan hingga 15.000 unit di berbagai wilayah terdampak bencana. Pembangunan lanjutan akan dilakukan secara bertahap di sejumlah lokasi, menyesuaikan kebutuhan serta kesiapan daerah.

“Kami akan menunggu arahan dari pemerintah daerah terkait lokasi-lokasi lain yang memang membutuhkan dan siap untuk dibangunkan,” jelasnya.




Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, S.E., menyampaikan bahwa dampak banjir yang terjadi beberapa waktu lalu dirasakan hampir di seluruh wilayah provinsi. Dari 18 kabupaten/kota yang terdampak, setidaknya tujuh daerah mengalami dampak paling parah sehingga memerlukan penanganan cepat dan kolaboratif.

“Kami menyampaikan ribuan terima kasih. Progres pembangunan sangat cepat, bahkan pekerjaan dilakukan nonstop selama 24 jam. Kami berharap pembangunan hunian sementara ini dapat berjalan paralel dengan proses pemulihan yang sedang berlangsung. Pemerintah daerah telah meminta agar lahan disiapkan, baik dari pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pihak lain yang memungkinkan, sehingga pembangunan bisa segera dilanjutkan,” ujar Fadhlullah.

Ia menegaskan, keberadaan huntara harus benar-benar memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Selain unit hunian, kawasan tersebut diharapkan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung agar warga dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih layak selama masa transisi.




“Harapannya, masyarakat yang menempati hunian ini merasa betah, aman, dan nyaman sambil menunggu proses pemulihan berikutnya,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang, Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, M.H., mengungkapkan bahwa skala kerusakan akibat bencana banjir di wilayahnya tergolong sangat besar. Berdasarkan pendataan sementara, lebih dari 14.000 rumah terdampak, dengan sekitar 8.000 unit di antaranya mengalami kerusakan berat.

“Untuk rumah yang rusak parah jumlahnya lebih kurang 8.000 unit. Total rumah terdampak bisa lebih dari 14.000 unit. Karena itu, untuk rumah-rumah yang rusak berat kemungkinan besar akan dilakukan relokasi,” ungkap Armia.

Ia juga menekankan pentingnya kelengkapan data serta persyaratan administrasi agar proses pembangunan dan penyaluran bantuan dapat berjalan berkelanjutan serta menjangkau lebih banyak warga terdampak.




Pembangunan huntara tahap awal ini dilaksanakan secara kolaboratif oleh BUMN Karya, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), PLN, Pertamina, dan Telkom, serta didukung oleh kesiapan areal dari PTPN Grup. Percepatan penyediaan dan kesiapan lahan oleh PTPN memungkinkan proses pembangunan dilakukan lebih cepat.

Program pembangunan hunian sementara ini merupakan bagian dari sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat dan daerah, BUMN, serta berbagai institusi pendukung. Sejumlah pihak terlibat dalam penyediaan infrastruktur dasar, utilitas, dan layanan pendukung lainnya, sehingga kawasan hunian dapat segera difungsikan sebagai tempat tinggal sementara yang aman dan layak bagi masyarakat terdampak bencana. (Humas/Rulim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update