-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pemkab Taput Gelar Pelatihan UMKM Naik Kelas, Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Ekspor

Kamis, 05 November 2026 | November 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-11-05T03:44:51Z


Tapanuli Utara, Mediareportasenews.com

Penguatan kualitas produk, kemasan, identitas merek, serta pemanfaatan pemasaran digital menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di tengah perkembangan dunia usaha dan persaingan pasar yang semakin kompetitif, pelaku UMKM dituntut untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas produk, serta mampu memanfaatkan teknologi digital agar usaha yang dijalankan dapat berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Kabupaten Tapanuli Utara memiliki potensi produk unggulan daerah yang sangat beragam. Potensi tersebut perlu terus dikembangkan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan identitas produk, perbaikan kualitas kemasan, serta perluasan jaringan pemasaran. Dengan dukungan pembinaan dan pendampingan yang tepat, produk lokal diharapkan tidak hanya mampu bersaing di pasar daerah dan nasional, tetapi juga memiliki peluang untuk menembus pasar internasional.

Sebagai bentuk komitmen dalam mendorong pengembangan UMKM, Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tapanuli Utara menyelenggarakan Pelatihan UMKM Tapanuli Utara Naik Kelas Tahun 2026 dengan tema “Branding Kuat, Digital Hebat, Produk Lokal Menuju Go Export”.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 2 hingga 4 November 2026, di Hotel Grand Libra Beach 2, Muara, tersebut dihadiri Ketua Dekranasda Kabupaten Tapanuli Utara, Ny. Neny Angelina JTP Hutabarat, pada Selasa (3/11/2026).




Dalam sambutannya, Ny. Neny Angelina JTP Hutabarat menyampaikan bahwa Kabupaten Tapanuli Utara memiliki sekitar 29.313 pelaku UMKM yang tersebar di 15 kecamatan. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi masyarakat yang dapat terus dikembangkan melalui berbagai program pembinaan, pelatihan, dan pendampingan usaha.

Menurutnya, Tapanuli Utara memiliki beragam produk unggulan yang mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri. Di antaranya kopi Arabika Sigarar Utang dan Kopi Lintong, kain ulos, kacang Sihobuk, gitar Sipoholon, sambal andaliman, kerajinan bambu, pandai besi Sitampurung, hingga kerajinan rotan.

Berbagai produk tersebut merupakan kekuatan ekonomi kreatif daerah yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Namun, potensi yang tersedia harus diikuti dengan peningkatan kualitas dan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola bisnis secara lebih profesional.

Ia menilai, salah satu tantangan yang masih dihadapi pelaku UMKM adalah bagaimana membangun identitas merek atau branding yang kuat, menciptakan kemasan produk yang menarik, serta memanfaatkan pemasaran digital secara optimal. Selain itu, legalitas usaha, sertifikasi produk, dan akses terhadap permodalan juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan agar produk UMKM dapat memenuhi kebutuhan pasar yang semakin beragam.

Karena itu, melalui pelatihan tersebut, para peserta diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat langsung diterapkan dalam pengembangan usaha masing-masing. Pelaku UMKM tidak hanya didorong untuk menghasilkan produk, tetapi juga harus mampu membangun citra produk, memahami kebutuhan konsumen, dan mengembangkan strategi pemasaran yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pada kesempatan itu, Ny. Neny Angelina juga menekankan pentingnya pengembangan produk kerajinan daerah sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah ulos, yang bukan hanya memiliki nilai budaya dan filosofi bagi masyarakat Batak, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi ribuan penenun di Kabupaten Tapanuli Utara.




Ia menyebutkan, terdapat sekitar 6.339 penenun ulos di Tapanuli Utara. Jumlah tersebut menjadi potensi besar yang perlu terus diperhatikan melalui pembinaan, peningkatan keterampilan, dan pengembangan inovasi produk. Para penenun didorong untuk menjalin kolaborasi dengan Dekranasda serta para Local Champion melalui berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil tenun, mempertahankan keunikan motif dan karakter ulos, sekaligus memperkuat nilai jual produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan demikian, pelestarian warisan budaya dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan para perajin.

Selain pengembangan ulos, kerajinan rotan juga menjadi salah satu potensi yang menunjukkan perkembangan positif. Ny. Neny Angelina menyampaikan bahwa kegiatan pembinaan yang dilakukan telah mendorong pertumbuhan jumlah pengrajin. Jika sebelumnya hanya terdapat satu orang pengrajin, kini telah berkembang menjadi 20 orang penganyam yang mengikuti pelatihan dan mulai menghasilkan berbagai produk kerajinan.

Perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membuka peluang tumbuhnya pelaku usaha baru sekaligus memperkuat sektor kerajinan lokal. Potensi bahan baku dan keterampilan masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila didukung kreativitas, inovasi desain, serta strategi pemasaran yang tepat.

Lebih lanjut, sepanjang tahun 2026 Dekranasda Kabupaten Tapanuli Utara telah mendorong pengembangan sebanyak 150 produk unggulan dan memberikan pembinaan kepada sekitar 150 penenun. Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat kualitas produk daerah sekaligus membuka kesempatan bagi para pelaku kerajinan agar dapat memperluas jangkauan pemasaran.




Pendampingan juga dilaksanakan melalui empat Local Champion, yakni Dame Ulos, Soho Ulos, Rumah Ulos, dan Vera Galery Ulos. Keempat mitra tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan, mengembangkan, dan mempromosikan produk kerajinan unggulan Tapanuli Utara agar semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Berbagai produk unggulan daerah tersebut juga telah diperkenalkan melalui sejumlah pameran berskala nasional, termasuk Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang diselenggarakan Bank Indonesia. Keikutsertaan dalam kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi produk UMKM dan kerajinan Tapanuli Utara untuk dikenal oleh konsumen yang lebih luas, sekaligus membuka peluang pemasaran dan kerja sama dengan berbagai pihak.

Capaian penjualan yang membanggakan dalam kegiatan pameran tersebut menjadi salah satu dorongan bagi pelaku UMKM dan perajin untuk terus meningkatkan kualitas produknya. Tidak hanya itu, produk dan karya daerah Tapanuli Utara juga memperoleh kesempatan untuk tampil dalam ajang Indonesia Fashion Week serta kegiatan Wastra di tingkat nasional.

Kesempatan tampil dalam berbagai ajang tersebut merupakan peluang penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat Tapanuli Utara. Melalui promosi yang lebih luas, produk daerah diharapkan memiliki posisi yang semakin kuat dan mampu menarik perhatian pasar, termasuk konsumen yang mengutamakan produk dengan karakter lokal dan nilai budaya.

Pelatihan UMKM Tapanuli Utara Naik Kelas Tahun 2026 ini dirancang dengan metode pembelajaran yang mengutamakan praktik. Dari keseluruhan materi yang diberikan, sebanyak 30 persen merupakan teori dan 70 persen praktik. Komposisi tersebut diharapkan membuat peserta tidak hanya memahami konsep pengembangan usaha, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan.

Materi pelatihan mencakup berbagai aspek penting dalam pengembangan usaha, mulai dari penguatan branding, penyusunan Business Model Canvas, desain kemasan, pemasaran digital, hingga pemanfaatan Google Business Profile untuk memperluas jangkauan informasi usaha.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai pembuatan konten dan video promosi yang menarik sebagai sarana memperkenalkan produk melalui berbagai platform digital. Kemampuan membuat konten promosi menjadi salah satu keterampilan penting bagi pelaku UMKM agar produk yang dihasilkan dapat dikenal lebih luas dan mampu menjangkau calon konsumen secara efektif.

Tidak hanya berfokus pada promosi, pelatihan ini turut memberikan pemahaman mengenai legalitas usaha, sertifikasi, pendaftaran merek, standar ekspor, hingga business pitch. Materi tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM memahami tahapan pengembangan usaha secara lebih menyeluruh, termasuk persyaratan yang perlu dipenuhi apabila ingin memperluas pemasaran hingga ke pasar internasional.

Adapun pemateri dalam kegiatan ini adalah Rico Poltak Tuahot Hutasoit, Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai dan Dukungan Teknis Cabang Sibolga, serta Sugianto, S.T., M.Kom., dari SAE Ecademy Medan. Para pemateri memberikan pembekalan sesuai bidang keahlian masing-masing, sehingga peserta memperoleh wawasan mengenai pengembangan usaha, pemasaran digital, serta berbagai aspek yang berkaitan dengan kesiapan produk untuk memasuki pasar yang lebih luas.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tapanuli Utara, pengurus Dekranasda, serta para peserta pelatihan yang berasal dari kalangan pelaku UMKM dan perajin.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara bersama Dekranasda diharapkan dapat terus mendorong tumbuhnya UMKM yang mandiri, kreatif, inovatif, dan berdaya saing. Peningkatan kualitas produk, penguatan branding, kemasan yang menarik, serta pemanfaatan teknologi digital menjadi bekal penting bagi pelaku usaha untuk menghadapi persaingan pasar.

Dengan semakin meningkatnya kemampuan dan keterampilan para pelaku UMKM, produk unggulan Tapanuli Utara diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian masyarakat. Potensi kopi, ulos, kuliner khas, dan berbagai produk kerajinan lokal diharapkan terus berkembang sehingga memiliki nilai tambah serta peluang pemasaran yang semakin luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. (Rokki.P)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update