-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

MIRIS ! Irigasi Proyek PUPR Pusat di Madina Mati Suri: Persimpangan di Sayur Maincat Buntu, Sawah di Simanondong Naga Juang, Panyabungan Utara Kekeringan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | Oktober 17, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-17T07:24:01Z



Huta Bargot, Mediareportasenews.com

Krisis air yang melanda petani di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menjadi perhatian serius. Saluran irigasi yang disebut-sebut sebagai proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera II (BWSS II) Medan dilaporkan tidak berfungsi selama kurang lebih dua tahun, sehingga menghambat pasokan air ke sejumlah wilayah pertanian di Kecamatan Panyabungan Utara dan Naga Juang.

Saluran irigasi yang dibangun menggunakan anggaran APBN tersebut berada di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR. Namun, berdasarkan pantauan ReportaseNews.com, kondisi saluran saat ini memprihatinkan dan tidak mengalirkan air ke sejumlah wilayah yang membutuhkan pasokan irigasi.

Di persimpangan saluran irigasi induk yang berada di Desa Sayur Maincat, Kecamatan Huta Bargot, air tidak terlihat mengalir menuju Kecamatan Naga Juang dan Panyabungan Utara. Padahal, titik tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam penyaluran air ke wilayah hilir.

Akibat kondisi tersebut, jalur irigasi yang melintasi Desa Simanondong, Sopo Sorik, dan Bulu Mario di Kecamatan Panyabungan Utara dilaporkan tidak berfungsi. Para petani pun terpaksa mengandalkan curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman mereka.

Kepala Desa Simanondong, Walter Simanjuntak, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi tersebut. Menurutnya, saluran irigasi itu merupakan proyek pemerintah pusat yang seharusnya dapat mendukung produktivitas pertanian masyarakat.

“Ini saluran irigasi dari PUPR Pusat, Bang. Proyek besar. Tapi sudah dua tahun tidak berfungsi. Persimpangan di Sayur Maincat, Huta Bargot, itu tidak ada air sama sekali yang mengalir ke Naga Juang. Padahal, kalau air ini stabil, Kecamatan Naga Juang dan Panyabungan Utara sangat berpotensi menjadi lumbung swasembada pangan untuk Kabupaten Mandailing Natal,” ujar Walter, Sabtu (17/10/2026).

Walter menjelaskan, tidak berfungsinya irigasi tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan petani. Mereka khawatir mengalami gagal panen akibat keterbatasan air, sementara sumber pendapatan dari sektor pertanian semakin terancam. Selain itu, serangan hama juga menjadi persoalan yang harus dihadapi petani.




Menurutnya, beralih menanam komoditas hortikultura pun bukan solusi mudah karena tanaman tersebut tetap membutuhkan ketersediaan air yang memadai.

“Petani kami mau alih profesi ke mana? Lahan tidak ada perluasan. Mau tanam hortikultura juga butuh air. Kami mohon perhatian,” keluhnya.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai pemeliharaan dan perbaikan jaringan irigasi tersebut. Warga berharap instansi yang berwenang segera memeriksa penyebab terhentinya aliran air, sekaligus memastikan langkah perbaikan dapat segera dilaksanakan.

Desakan terutama ditujukan kepada Balai Wilayah Sungai Sumatera II (BWSS II) Medan, Kementerian PUPR RI, sebagai instansi yang disebut bertanggung jawab atas proyek tersebut. Warga meminta pihak balai turun langsung ke lapangan untuk memeriksa kondisi jaringan irigasi, khususnya di persimpangan Desa Sayur Maincat, Kecamatan Huta Bargot.

Selain itu, Dinas PUPR Kabupaten Mandailing Natal diharapkan dapat membantu menyampaikan dan mengawal aspirasi masyarakat kepada pemerintah pusat. Warga juga meminta Bupati Mandailing Natal dan Komisi V DPR RI memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut sesuai kewenangan masing-masing.

“Ini proyek PUPR Pusat, anggarannya besar dari APBN. Tolong jangan biarkan petani kami menderita. Kami di Simanondong, Sopo Sorik, Bulu Mario, hingga Naga Juang butuh air. Tolong perbaiki segera sebelum kami benar-benar gagal panen,” pinta Walter.

Masyarakat berharap BWSS II Medan segera melakukan pemeriksaan dan penanganan sebelum musim tanam berikutnya tiba. Ketersediaan air irigasi dinilai sangat penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung upaya peningkatan ketahanan dan swasembada pangan.

Warga juga berharap program pembangunan infrastruktur pertanian dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sehingga jaringan irigasi yang telah dibangun dengan anggaran negara dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak BWSS II Medan belum berhasil dikonfirmasi terkait penyebab tidak berfungsinya saluran irigasi tersebut maupun rencana penanganannya. ReportaseNews.com akan terus berupaya meminta keterangan resmi dari pihak terkait. (Troya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update